Suharyo. Untuk masyarakat dusun, nama itu masuk kategori “menengah”. Dia “satu level” di atas nama Suparmin, Tugimin, Ngatimin, dan nama-nama sejenis. Tetapi masih “satu level“ di bawah nama Bambang, Agus, Toni, Joni, atau nama-nama lain yang beraroma masyarakat kota. Di Desa Argosari, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, untunglah hanya ada satu nama Suharyo setelah di depannya diberi nama baptis Ignatius. Lahir 9 Juli 1950, dari pasangan suami istri Florentinus Amir Hardjadisastro dan Theodora Murni.
Dilihat dari sudut pandang ilmu othak athik gathuk, Suharyo diramal bakal memiliki karakter keras, mudah marah, namun cepat reda amarahnya. Ia juga akan menyukai hal-hal spiritual, suka musik, cerdas, dan mudah diterima orang lain sebab ia juga memiliki sifat rendah hati dan dermawan. Entah benar, entah tidak, namun sifat-sifat itu melekat pada diri Suharyo, dan semua orang mengenal dan merasakannya. Sebagai anak nomor 7 dari 10 bersaudara, Suharyo tidak diistimewakan, baik oleh kakak maupun adik-adiknya. Ia tidak bisa bermanja-manja. Masa kanak-kanaknya, sebagai anak desa, akrab dengan lumpur di sawah. Menggembalakan kambing, menggiring bebek, mandi di kali, adalah masa-masa indah yang tak dapat diulang.
Yang bisa diulang-ulang dari sisa-sisa masa kecilnya adalah hidup doa. Kedua orang tuanya memang mengajari anak-anaknya untuk tekun dalam doa. Hidup doa dan menggereja menjadi roh yang menggerakkan seluruh sendi kehidupan keluarga. Dan, doa itu akan terus dilakukan, bahkan sampai mati dan sesudahnya, yakni saat diperkenankan bergabung dengan orang kudus di surga sebab doa adalah kegiatan yang senantiasa terus dilaksanakan oleh setiap orang beriman, baik ketika masih hidup maupun setelah mati, mengingat kita pun selalu memohon bantuan doa para kudus di surga. |